Tawa di Celah Gedung Pencakar Langit

December 28, 2017

Karin dan Novi, Pengunjung RPTRA Cengkareng Timur (Dok. Pri)

Karin dan Novi tampak menikmati bermain ayunan. Senyum dan tawa selalu menghiasi bibir mungil mereka sore itu. Keduanya bermain ayunan berwarna biru yang terletak disebelah kiri pintu masuk Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Cengkareng Timur. Gadis kecil yang tinggal disekitar RPTRA Cengkareng Timur tersebut, datang bersama teman-temannya. Mereka merupakan pengunjung RPTRA Cengkareng Timur. Taman yang diresmikan tanggal 18 Februari 2016 itu memang dibuat sebagai tempat bermain dan belajar yang ramah anak. Karena itu, di tempat seluas 1100 meter persegi tersebut, tersedia beberapa fasilitas seperti ayunan, lapangan futsal, perpustakaan dan lain-lain.


“Enak bermain disini, ada ayunan, ada perpustakaannya,” ujar Novi, gadis kecil berbaju merah muda itu. Mereka memang senang menghabiskan waktu liburnya di taman tersebut. "Setiap sabtu dan minggu memang selalu kesini," ujar Karin. Selain bermain ayunan, mereka juga sering datang ke perpustakaan untuk membaca buku. Buku cerita menjadi buku kesukaan mereka.


Selain Karin dan Novi, ada juga Leli, Gadis cantik berusia 25 tahun ini merupakan pengunjung rutin RPTRA Cengkareng Timur. Leli selalu datang ke RPTRA Cengkareng Timur untuk menemani keponakannya bermain. "Biasanya sore kalau kesini, kalau siang panas," ucap Leli, mengawali obrolan sore itu. Leli datang ke RPTRA Cengkareng Timur atas permintaan keponakannya. "Saya sih senang saja dia bermain disini, dibandingkan dia bermain gadget melulu," ucap gadis berkerudung cokelat itu. Leli menambahkan, pembuatan RPTRA Cengkareng Timur sangat bermanfaat untuk warga sekitar. "Alhamdulillah, kalau sekarang sudah ada tempat bermain untuk anak-anak, dibandingkan zaman dahulu tidak ada sama sekali. Di Cengkareng Timur, cuma ini tempat bermain untuk anak-anak," ucap Leli.


Sore itu RPTRA Cengkareng Timur tak seramai biasanya. Anak-anak yang biasanya memenuhi taman, hanya terlihat beberapa yang berkumpul di sudut-sudut tertentu. Menurut Leli, biasanya RPTRA Cengkareng Timur ramai dikunjungi di hari minggu. "Datang lagi saja besok," ujar gadis berkulit putih tersebut. Leli menjelaskan, hari minggu biasanya ramai dikunjungi karena lapangan futsal di RPTRA Cengkareng Timur dimanfaatkan ibu-ibu sekitar taman untuk senam. Senam yang rutin diadakan setiap minggu pagi, sambil mengantarkan anak-anak mereka bermain.


RPTRA Cengkareng Timur berlokasi di jalan outer ringroad, RT 12/11, Kelurahan Cengkareng Timur, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. RPTRA yang diresmikan tanggal 18 Februari 2016 tersebut cukup mudah diakses karena lokasinya tepat di tepi jalan. Untuk masuk ke RPTRA Cengkareng Timur akan melewati dua buah gerbang, gerbang besar dan kecil. Setelah masuk kedalam gerbang besar, ada dua buah gerbang kecil, satu gerbang untuk masuk ke RPTRA Cengkareng Timur dan satu gerbang lainnya untuk masuk ke SDN Cengkareng Timur 21 pagi. Karena lokasi RPTRA Cengkareng Timur berada di area SDN Cengkareng Timur 21 pagi.


Menurut seorang pengelola bernama Diana, RPTRA Cengkareng Timur dibuka mulai pukul 08.00 wib sampai 18.00 wib. "Pengelola disini berjumlah enam orang, tiga orang berasal dari Karang Taruna dan tiga orang dari PKK," ucap Diana. Diana menjelaskan, pembagian jadwal kerjanya dibagi menjadi dua. Tiga orang masuk, tiga orang libur dan begitu seterusnya. Tugas pengelola di RPTRA Cengkareng Timur tidak hanya mengawasi anak-anak yang sedang bermain, tetapi juga sebagai petugas kebersihan karena ketiadaan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana  Umum (PPSU). “Saat ada kunjungan dari Ibu Lurah beberapa waktu yang lalu, ketika melihat kondisi RPTRA yang agak kotor, kami langsung mendapat teguran dari Ibu Lurah,” ucap wanita yang kontrak kerjanya akan habis 31 Desember 2017 ini.


Kontrak kerja enam  orang pengelola di RPTRA Cengkareng Timur akan habis 31 Desember 2017, dan tahun ini kontrak kerja mereka tidak diperpanjang. Menurut Diana, mereka akan digantikan oleh pengelola baru hasil rekrutmen yang diadakan Suku Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) beberapa waktu yang lalu. “Kalau mau tanya lebih jauh tentang RPTRA Cengkareng Timur, datang lagi saja tanggal 2 Januari 2018 karena ada pengelola baru," ucap wanita berkerudung hijau itu. Diana menambahkan, Diantara enam orang pengelola RPTRA Cengkareng Timur yang ikut seleksi penerimaan tenaga pengelola RPTRA, hanya Ibu Lis saja yang lulus seleksi, karena dia berada diperingkat lima saat seleksi. Ibu Lis merupakan salah satu dari enam orang pengelola RPTRA Cengkareng Timur saat ini.


Setelah tidak lagi menjabat sebagai pengelola RPTRA Cengkareng Timur, Diana akan kembali aktif menjadi ketua PKK RW 012 Cengkareng Timur. Karena sebelum diangkat menjadi pengelola RPTRA Cengkareng Timur, beliau sudah 12 tahun  mengabdikan diri menjadi ketua PKK RW 012 Cengkareng Timur. “Setelah tidak lagi menjabat sebagai pengelola disini, mau saya putus saja BPJS yang dari sini, karena saya dan 4 orang anak saya dapat fasilitas BPJS kelas I, berarti Rp 400.000 per bulan yang harus saya bayar untuk BPJS, uang dari mana saya?” keluhnya sore itu. Kesulitan keuangan karena tidak ada lagi penghasilan tetap yang akan dia terima, ditambah dia adalah seorang janda dengan empat orang anak setelah 12 tahun lalu berpisah dengan suaminya. Selama menjabat, pengelola RPTRA Cengkareng Timur tidak hanya mendapatkan gaji bulanan, tetapi juga mendapatkan tunjangan kesehatan berupa BPJS kesehatan kelas I.


Pada tanggal 27 Agustus 2017 yang lalu, RPTRA Cengkareng Timur berhasil menjadi juara umum 2 dalam lomba permainan tradisional yang dibuat oleh Astra. Lomba yang diselenggarakan di RPTRA Ciganjur berseri tersebut diadakan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. "Lomba permainan tradisional dipilih karena dalam permainan tradisional terkandung makna rasa persatuan dan kebersamaan, dengan melibatkan aspek fisik dan emosi. Manfaat dari permainan tradisional akan sangat baik bagi kecerdasan emosi, daya kreatifitas, serta kemampuan bersosialisasi seorang anak," ucap Diah Suran Febrianti, Team Leader Divisi Environment Social Responsibility PT Astra Internasional Tbk.


RPTRA Cengkareng Timur merupakan salah satu diantara ratusan RPTRA yang ada di Jakarta. Pembangunan RPTRA merupakan salah satu langkah Pemprov DKI Jakarta menjadikan DKI Jakarta sebagai Kota Layak Anak (KLA). Jakarta menuju Kota Layak Anak memang sudah dicanangkan sejak 2013 yang lalu oleh Pemprov DKI Jakarta. "Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, 24 Juni 2013, saya canangkan DKI Jakarta menuju Kota Layak Anak," ujar Jokowi yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pencanangan tersebut dilakukan di sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat.


Pencanangan Kota Layak Anak tersebut didasari pada ketiadaan ruang publik ramah anak di Jakarta. Tanah lapang yang dahulu dipakai untuk bermain anak-anak, kini sudah berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit. Kepadatan kampung kota menyebabkan anak-anak yang tinggal di kawasan padat penduduk seperti Jakarta kehilangan hak-hak mereka untuk bermain dan memiliki fasilitas yang ramah anak. Ditambah kasus kekerasan pada anak yang sering terjadi di DKI Jakarta. Menurut data  Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) DKI Jakarta, terdapat 1.044 kasus sejak tahun 2011 sampai 2013 dimana tiap tahunnya selalu mengalami kenaikan. Jenis kasus yang dihadapi anak bermacam-macam seperti penelantaran, pencabulan, perkosaan, kekerasan fisik, kekerasan psikis, trafficking, diskriminasi anak, membawa lari anak dibawah umur, penganiayaan, pemanfaatan anak-anak untuk jaringan obat-obatan terlarang dan lain sebagainya.


Pemprov DKI Jakarta mulai menggulirkan kebijakan Kota Layak Anak (KLA) sebagai salah satu solusi dalam memberikan perlindungan dan pengembangan potensi anak. RPTRA yang pertama kali diresmikan oleh Pemprov DKI Jakarta adalah RPTRA Sungai Bambu, yang berada di  wilayah Jakarta Utara. "Saya minta bapak ibu yang hadir, enam RPTRA yang sudah jadi ini supaya betul-betul bermanfaat buat kita. Bapak ibu juga jangan membuang sampah sembarangan," ujar Ahok, saat peresmian RPTRA Sungai Bambu. RPTRA Sungai Bambu diresmikan tanggal 13 Mei 2015. RPTRA tersebut akan menjadi RPTRA pilot project atau RPTRA percontohan.


Pembangunan RPTRA tidak hanya dibiayai dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta saja, melainkan ada dana dari corporate social responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan swasta. Sesuai indikator KLA pada Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pasal 6 huruf (g) yaitu keterlibatan dunia usaha dalam pemenuhan hak anak. Keterlibatan dunia usaha dalam memberikan CSR untuk pembangunan RPTRA, memperlihatkan bahwa dunia usaha sektor swasta pun menunjukkan kepeduliannya terhadap ruang terbuka ramah anak. Menurut Ahok, jika pembangunan dilakukan Pemerintah, kadang memiliki kualitas yang tidak maksimal. Meski konsultan disertakan dalam pembangunan, Ahok merasa dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dapat digunakan untuk kebutuhan masyarakat. "Jadi, uang kita mau dipakai kemana nantinya? tentu akan fokus, uang APBD itu untuk jaminan kesehatan, pendidikan, perumahan, transportasi, sembako dan modal lapangan kerja," kata Ahok, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.


PT Astra Internasional tbk merupakan salah satu dari sebelas perusahaan swasta yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan RPTRA di Jakarta. PT Astra Internasional tbk yang diwakili Head of Environment and Social Responsibility, Riza Deliansyah menyampaikan dukungannya atas pembangunan RPTRA di Jakarta. "Kami mendukung Jakarta menuju Kota Layak Anak. Pada prinsipnya dimana pun kami berada ingin berkontribusi yang terbaik," ujar Riza. Tahun 2015 Astra meneken kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk pembangunan 5 RPTRA di wilayah Jakarta seperti Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Kepulauan Seribu yang diperkirakan memerlukan biaya Rp 5 milliar.


Sumbangsih PT Astra Internasional tbk tidak berhenti sampai pembangunan RPTRA saja, tetapi juga membantu keberlangsungan 5 RPTRA yang sudah dibangun. "Saya terima kasih kepada Astra yang bantu bangun di lima lokasi. Beliau enam bulan masih awasi perbaikan-perbaikan. Astra juga akan membantu membina sekolah," ujar Ahok, saat peresmian RPTRA Cengkareng Timur. PT Astra Internasional tbk, setiap bulannya memberikan dana operasional dan voucher angkutan online kepada pengelola RPTRA dibawah binaan Astra. "Untuk dananya kami pakai untuk membeli snack kalau ada acara disini, kalau voucher angkutan online kami pakai kalau ada rapat di luar," ujar Diana, wanita yang menjadi pengelola RPTRA Cengkareng Timur sejak Juni 2016. Diana menambahkan, saat bulan Ramadhan yang lalu, PT Astra Internasional tbk mengadakan sembako murah bagi warga Cengkareng Timur dan dana hasil penjualannya dipakai untuk operasional RPTRA Cengkareng Timur.



Menurut Pongki Pamungkas, Chief of Corporate Communications, Social Responsibility, and Security PT Astra Internasional tbk. Tanpa kerjasama yang baik dengan pemerintah, tentunya pembangunan RPTRA ini tidak terwujud. Kegiatan ini sejalan dengan salah satu fokus program CSR Astra yaitu pendidikan, yang menjadi salah satu pilar kegiatan corporate social responsibility (CSR) Grup Astra sejak tahun 1974. Pada prinsipnya dimanapun Astra berada harus dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Darma, yaitu Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.



Atas kontribusinya tersebut, PT Astra Internasional tbk meraih penghargaan Padmamitra Award 2015 untuk kategori perusahaan swasta murni yang menyelenggarakan corporate social responsibility (CSR) berdasarkan keberlanjutan program. Penghargaan tingkat provinsi ini diberikan (mantan) Wakil Gubernur Jakarta, Djarot Saiful Hidayat. "Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada seluruh perusahaan penerima Padmamitra Award ini. Bapak ibu disini sudah menunjukkan dengan sunguh-sungguh rasa tanggung jawab serta rasa syukurnya kepada bumi Indonesia tercinta," ujar (mantan) Wakil Gubernur Djarot, dalam sambutannya.


Empat tahun berlalu sejak dicanangkannya DKI Jakarta menuju Kota Layak Anak. Menurut data Pemprov DKI Jakarta, Per bulan Oktober 2017 sudah ada 291 RPTRA di Jakarta yang sudah diresmikan. RPTRA Cengkareng Timur satu diantaranya. Banyak manfaat yang didapat dengan adanya RPTRA. "Semua lapisan masyarakat aktif disini. Adapun agenda rutin disini diantaranya senam ibu-ibu, pertemuan ibu-ibu PKK, posyandu, menari dan masih banyak lagi," ucap Diana, seorang pengelola RPTRA Cengkareng Timur. Diana menambahkan, kalau ada orang yang ingin membuat acara di RPTRA Cengkareng Timur, nanti bisa dibantu carikan dana CSR perusahaan-perusahaan swasta oleh pengelola. Dan yang paling membahagiakan, banyak masyarakat disini yang tadinya tidak saling mengenal dan tidak bertegur sapa menjadi akrab.


Pembangunan ratusan RPTRA memiliki kontribusi besar bagi Jakarta sebagai Kota Layak Anak. "Kami terus berusaha mewujudkan Jakarta semakin ramah terhadap anak," ujar Djarot Saiful Hidayat. Djarot menambahkan, untuk mewujudkan Jakarta sebagai  Kota Layak Anak harus memperbanyak fasilitas yang pro anak. "Jakarta harus benar-benar bisa aman, nyaman dan ramah bagi anak," tambah Djarot yang baru saja pulang dari Riau untuk menerima penghargaan Jakarta sebagai Kota Layak Anak dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise. "Saya mewakili Pemprov DKI Jakarta, baru menerima piala penghargaan dari bu Yohana. Pemberian penghargaan dilaksanakan di Riau sabtu lalu, bertepatan dengan Hari Anak Nasional," papar Djarot. Penghargaan ini menunjukkan kondisi Jakarta semakin nyaman untuk anak-anak.


Tanggal 24 Juli 2017, Jakarta ditetapkan sebagai Kota Layak Anak karena pembangunan RPTRA di Jakarta telah memenuhi empat indikator Kota Layak Anak (KLA) yang terdapat didalam peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak, yaitu pada pasal 5 ayat 2 huruf (a) mengenai penguatan kelembagaan yaitu dalam hal keterlibatan lembaga masyarakat dalam pemenuhan hak anak dan keterlibatan dunia usaha dalam pemenuhan hak anak. Dan pada pasal 5 ayat 2 huruf (b) mengenai klaster hak anak meliputi kesehatan dasar, kesejahteraan dan pendidikan serta pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya.



You Might Also Like

0 comments

Subscribe