Program Hijau di Pulau Seribu, Membuat Hunian Menjadi Nyaman

December 31, 2018


Pohon Mangrove yang ada di Pulau Pramuka


Awan cerah dengan pemandangan yang indah menyambut kehadiran saya di Pulau Pramuka. Setelah beberapa menit berjalan menyusuri jalan setapak, sampailah saya di forum rumah hijau. Terlihat dari jauh, terdapat beberapa wanita yang sedang berkumpul dan salah satunya adalah Ibu Mahariah.
“Assalamu’alaykum,” ucapku mengawali obrolan dengan Ibu Mahariah. “Wa’alaykumussalaam,” ucapnya menjawab salamku. Setelah memperkenalkan diri dan meminta izin untuk bertanya-tanya sebentar, akhirnya obrolan siang itu kami mulai.

Sekilas tidak ada yang berbeda dari sosok Ibu Mahariah. Layaknya wanita pada umumnya, sosok ibu Mahariah terlihat begitu tenang, setenang air laut di Pulau Pramuka siang itu. Tapi terlihat cukup jelas bagaimana kepemimpinannya yang dapat menggerakkan warga di Pulau Pramuka. Bagi warga Pulau Pramuka, dia laksana terang di tengah kegelapan.

Mahariah Sadri (50) atau yang biasa di sapa Ibu Mamah adalah ketua Sentra Penyuluhan dan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Samo-samo. Sejak 2006, Ibu Mahariah sudah bermitra dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu untuk melakukan aktivitas penghijauan berupa penanaman pohon mangrove.

Latar Belakang Pembuatan Forum Rumah Hijau

Kondisi hidup di Pulau Seribu yang tidak senyaman dulu, membuatnya bergerak untuk dapat mengatasi semua masalah yang ada. Harapannya hanya satu, yaitu dapat hidup dengan nyaman di Pulau dimana dia lahir, besar dan kemungkinan meninggal. “Saya ingin tinggal dilingkungan yang nyaman, jadi kalau dilingkungan saya ada masalah apapun harus saya selesaikan,” ucap wanita yang sehari-hari bekerja sebagai guru agama di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 17 Pulau Panggang itu.

Bersama beberapa nelayan pulau Panggang, sejak 2006, dia aktif melakukan penanaman pohon mangrove di Pulau Seribu. Bukan fungsi ekonomis yang dia harapkan, melainkan fungsi ekologis dimana pohon mangrove tersebut dapat menahan abrasi tepi pantai yang sering terjadi akibat perubahan iklim.

Awal melakukan penanaman pohon mangrove banyak kesulitan yang dia hadapi. Dia menjelaskan, dari 200.000 pohon mangrove yang dia tanam, hanya sekitar 60-70% yang dapat bertahan hidup. Hal itu disebabkan karena minimnya pengetahuan akan cara menanam mangrove yang baik. 

“Sampah-sampah yang ada di tepi pantai menyebabkan pohon mangrove sulit berkembang,” ucap Ibu beranak satu ini. Setelah dia pelajari dan analisa, ternyata usia tanam pohon mangrove juga berpengaruh. Menurutnya, usia tanam pohon mangrove yang baik adalah saat mangrove berusia 2 bulan, karena kemampuan untuk beradaptasi masih baik dibandingkan dengan mangrove berusia 3 bulan atau lebih.

Untuk biaya pembelian bibit mangrove didapatkan dari dana patungan warga. Walau sebenarnya dia tidak menutup diri kalau ada pribadi atau instansi yang ingin menyumbang.”Paling kalau ada institusi atau pribadi yang ingin ikut menanam mangrove, kemudian mereka membeli bibit-bibit mangrove tersebut, paling dana tambahannya dari situ saja,”tuturnya.

Untuk perbaikan ekosistem biota laut, selain menanam mangrove, dia dan nelayan Pulau Panggang aktif melestarikan terumbu karang. Hal ini dilakukan karena minimnya pengetahuan warga tentang pentingnya terumbu karang. Menurut dia, rusaknya terumbu karang akan memutus rantai makanan biota laut, sehingga jumlah ikan yang ada menjadi sedikit. Tentu hal itu akan berpengaruh terhadap pendapatan para nelayan di Pulau Seribu.

Budidaya terumbu karang dilakukan di Area Perlindungan Laut Pulau Seribu. Budidaya tersebut dilakukan dengan teknik transplantasi, dimana bibit karang akan diikatkan pada sebuah wadah untuk ditaruh di dasar laut. Fungsi ikatan tersebut agar bibit karang tidak terbawa arus. Bibit-bibit yang sudah membesar akan di angkat lagi ke darat untuk dipotong dan dijadikan indukan terumbu karang yang baru.

Selain sebagai ketua Sentra Penyuluhan dan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Samo-samo, Ibu Mahariah juga aktif sebagai ketua Forum Rumah Hijau. Forum Rumah Hijau yang mayoritas anggotanya ibu rumah tangga dibuat sebagai tempat edukasi untuk membentuk rumah tangga yang ramah lingkungan dan berketahanan pangan.

Dia menjelaskan, awal pembuatan forum rumah hijau berawal dari perbincangan santai dengan beberapa teman yang memiliki kepedulian yang sama dengannya. Kemudian ide itu dibawa ke forum warga untuk dibicarkan bersama. Ternyata masalah yang dirasakan warga sama seperti apa yang ia rasakan, yaitu jumlah sampah yang terus meningkat dan kenaikan harga pangan.

Aktivitas yang ada di Forum Rumah Hijau Pulau Seribu

Dibuatlah program untuk mengatasi masalah yang dialami warga Pulau Seribu, antara lain bank sampah, mengelola sampah menjadi kerajinan, membuat penampungan air hujan, penanaman sayur organik, pembudidayaan kelinci, pembuatan pupuk kandang, mengedukasi warga dan wisatawan serta membuat kelas iklim untuk siswa SD sampai SMA.

Program bank sampah dibuat karena jumlah sampah yang ada di Pulau Seribu terus meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan dan sampah hasil kiriman muara-muara di Jakarta. Pengelolaan bank sampah dilakukan dengan mengumpulkan dan memisahkan antara sampah organik dan sampah non organik.

Latar Belakang Pembuatan Forum Rumah Hijau

“Saya tidak ingin mati (meninggal) bersama tumpukan sampah,” ucapnya menjelaskan latar belakang pembuatan bank sampah. Serta dia juga ingin mewariskan pulau yang bersih untuk para generasi penerus di Pulau Seribu, sehingga nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.

Sampah organik hasil limbah rumah tangga diolah menjadi biogas, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Teknik pembuatan biogas dimulai dengan mengumpulkan limbah rumah tangga, kemudian limbah tersebut diberi ragi agar membusuk, dan gas hasil pembusukannya di tampung di sebuah tangki yang disebut tangki biodigester.

Sedangkan sampah non organik yang baik akan diolah menjadi kerajinan tangan seperti tas, dompet dan lain-lain. Sedangkan sampah non organik yang tidak baik akan diolah menjadi ecobrick. Ecobrick adalah batako dari hasil pengolahan sampah non organik yang dimasukan ke dalam botol yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah.

Program Budidaya kelinci tidak hanya dimanfaatkan dagingnya tetapi juga kotorannya. Kotoran kelinci dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kandang. Program pembuatan pupuk kandang dibuat sebagai media tanam untuk sayuran organik. Menurut dia, lahan tanah di Pulau Seribu cenderung berpasir, sehingga tidak cocok digunakan untuk lahan bercocok tanam. 

Program menanam sayur organik dilakukan melalui media tanam di dalam pot berisi pupuk kandang dan melalui teknik hydroponik. Program ini dibuat agar setiap rumah tangga memiliki ketahanan pangan yang baik, di tengah keterbatasan lahan yang ada. Program ini juga dibuat agar warga Pulau Seribu tidak ketergantungan teradap sayuran yang dikirim dari Jakarta yang harganya terus meningkat.

“Waktu kami sedang membersihkan pantai, tiba-tiba ada orang yang membuang sampah ke laut,” kenang ibu Mahariah. Sejak kejadian itu dia menyadari bahwa tingkat kesadaran para wisatawan untuk mencintai lingkungan masih cukup rendah. Untuk itulah dia membuat program edukasi kepada para wisatawan untuk dapat mencintai lingkungan. 

“Sudah saatnya objek wisata yang ada di Pulau Seribu berubah, dari yang awalnya mengeksploitasi alam, menjadi wisata yang berorientasi pada alam,” ucap Ibu Mahariah. Sejak 2007, Pulau Seribu aktif menawarkan ekowisata kepada para wisatawan untuk turut serta menanam mangrove, mendaur ulang sampah dan lain-lain.

Walau seluruh kegiatan ini cukup menyita waktunya, tetapi dia sangat menikmati peran tersebut. Menurut dia, semua yang ia lakukan didasari atas dasar suka. “Kalau didasari atas dasar suka kan pasti kita senang melakukannya, tidak merasa terbebanilah,”ucapnya.

Menurut Mahariah, semua program yang ada di forum rumah hijau jadi semakin mudah dilakukan sejak adanya bantuan dari pihak lain. Misalnya PT. Astra Internasional Tbk yang pada tahun 2015 yang lalu memberikan bantuan berupa penampung air hujan, peralatan hydroponik, lubang resapan biopori, komposter, biodigester, mangrove dan terumbu karang.

Sejak 2015 yang lalu, Pulau Seribu menjadi kampung binaan Astra di bawah Kampung Berseri Astra (KBA). Hal ini disebabkan karena adanya kesamaan Visi antara PT. Astra Internasional Tbk dengan Forum Rumah Hijau, yaitu visi untuk menjaga lingkungan.

Bantuan Yang Di Harapkan oleh Forum Rumah Hijau

Menurut Ibu Mahariah, sumbangan yang diberikan PT. Astra Internasional tbk juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan. “Kami butuh bantuan yang lebih mengarah kepada peningkatan skill, karena mayoritas anggota forum rumah hijau adalah ibu rumah tangga dengan pendidikan yang minim,” kata Ibu Mahariah.

Menurutnya, sudah beberapa kali PT. Astra Internasional Tbk melakukan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan anggota di forum rumah hijau. Selain bantuan pelatihan, PT Astra Internasional Tbk juga aktif membantu pembentukan unit usaha dan memasarkan hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh warga.

Prestasi Yang Telah di Raih oleh Ibu Mahariah dan tim

Atas kerja kerasnya ini banyak penghargaan yang telah dia raih, diantaranya Penghargaan Wahana Lestari untuk kategori kelompok tani hutan, karena mereka sudah konsisten melakukan penanaman mangrove, Penghargaan Program Kampung Iklim tingkat daerah untuk Pulau Pramuka RW 04, Penghargaan Local Wisdom untuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat dari Bank Mandiri, Penghargaan Kalpataru Tingkat Provinsi DKI Jakarta, dan puncaknya adalah Penghargaan Kalpataru Tingkat Nasional dari Menteri Kehutanan

Menurut dia, penghargaan itu bukan akhir dari segalanya melainkan awal dari segalanya. Dia tidak ingin cepat berpuas diri karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus dia selesaikan. Satu diantaranya adalah melakukan edukasi pada anak-anak muda di Pulau Seribu untuk mencintai lingkungan.

Aktivitas Kelas Iklim Pulau Seribu

Kelas iklim menjadi cara yang dipilih untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda di Pulau Seribu teradap lingkungan. Bekerja sama dengan Taman Nasional Pulau Seribu dan pihak sekolah, kelas iklim ini dilaksanakan setiap hari minggu setiap pukul 09.00 sampai pukul 10.00 WIB di hutan eduwisata.

Kelas ini dibuat dengan menyatukan konsep antara belajar dan bermain agar anak-anak merasa senang. Di kelas iklim anak-anak diajarkan tentang bagaimana cara mengelola sampah, menanam pohon mangrove, menanam dengan teknik hydroponik, membuat pupuk kandang dan edukasi untuk tidak membuang sampah sembarangan. Harapannya hanya satu, yaitu anak-anak inilah yang akan meneruskan tongkat estafet untuk menjaga lingkungan di Pulau Seribu dimasa mendatang. 

#Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Pewarta Astra 2018

You Might Also Like

0 comments

Subscribe