Menjadi Blogger, Langkah awal meniti karir

January 13, 2019


Syarat Menjadi Jurnalis (Sumber: Dokpri)


Zaman sekolah dasar adalah zaman yang paling aku rindukan. Masih terngiang dalam pikiran masa-masa itu, masa dimana aku selalu menunggu ayah pulang bekerja. Bukan untuk meminta uang jajan, tetapi untuk bersama menyaksikan berita di televisi. Liputan 6 petang menjadi favorit kami kala itu.

Sebenarnya aku tidak terlalu paham tentang tema-tema yang diangkat, seperti ekonomi atau politik luar negeri. Aku justru lebih tertarik menyaksikan kartun jepang, karena jelas lebih menghibur untuk anak seumuranku. Ada satu momen yang membuatku tidak mungkin menolak. Momen disaat kami berdiskusi tentang suatu topik yang sedang diangkat. Menurutku itu cukup menarik, karena aku menemukan cara pandang yang berbeda. Cara pandang yang untuk anak seusiaku belum mampu menjangkaunya.

Rutinitas itu memunculkan kekaguman dalam diriku pada profesi jurnalistik, terutama news anchor. Bagaimana tidak, mereka memiliki wawasan yang luas serta kemampuan berbicara yang baik. Sebut saja Mba Rosiana Silalahi, Mas Arif Soeditomo, Mas Alfito Deannova atau Mba Najwa Shihab. Mulai saat itu tekadku sudah bulat, menjadi jurnalis adalah cita-cita yang harus aku kejar.

Perlahan demi perlahan aku coba untuk memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang jurnalis. Sulit!, Itu yang aku rasakan pertama kali. Aku yang sebenarnya adalah seorang anak yang introvert dan pendiam, harus berusaha menjadi manusia yang supel dan banyak bicara. Tetap kucoba untuk menikmati setiap prosesnya.

“Sudahlah ganti saja cita-cita ini,” gumamku dalam hati. Setiap kalimat kepasrahan ini muncul dalam hati, coba kutepis. Tanpa sengaja, aku menyaksikan berita tentang anak down syndrome yang mampu berprestasi dalam olahraga renang. “Dia aja bisa, masa aku ngga!” ucapku dalam hati, yang mencoba memotivasi diri. Padahal jelas, tantangan yang dia hadapi jauh lebih besar daripada aku.

Tak terasa aku sudah tumbuh menjadi pria remaja. Sudah tiba waktunya lulus dari SMA. Tapi nahas, orang tua tidak ada biaya untukku melanjutkan pendidikan. Lembar demi lembar lamaran kerja aku kirimkan ke perusahaan. Sampai akhirnya datang undangan untuk interview di sebuah perusahaan. “Kalau sudah kerja, gajinya mau dipakai untuk apa,” Tanya seorang HRD kepadaku. “Mau aku pakai untuk lanjutkan pendidikan, aku mau kuliah,” ucapku menjawab pertanyaan HRD tadi. Setelah aku tunggu tak ada kabar, aku baru tahu dari teman yang sudah bepengalaman interview, bahwa jawabanku untuk HRD tadi adalah jawaban yang tidak disukai oleh seorang HRD.

“Mungkin belum rezekiku, kan rezeki tidak akan tertukar” ungkapku dalam hati. Akhirnya ada perusahaan yang mau menerimaku bekerja. Setiap gaji turun, sedikit aku berikan ke orang tua dan sisanya aku tabung untuk biaya masuk kuliah. Setelah 2 tahun bekerja dan uang tabunganku sudah cukup, akhirnya aku bisa kuliah.

Mimpiku menjadi jurnalis menjadi semakin dekat. Tapi sayang, aku lulus tidak tepat waktu. Telat masuk kuliah, Intensitas kerja, sulitnya mencari perusahaan untuk sekedar riset dan rumitnya mengikuti kemauan dosen pembimbing, membuat kelulusanku menjadi tidak tepat waktu. Usiaku sudah tidak muda lagi, sedangkan setiap perusahaan memberi batasan umur untuk rekrutmen karyawan baru.

Tak seperti akhir cerita di film laskar pelangi atau man jadda wa jadda, yang mimpi tokohnya menjadi kenyataan, aku justru berbalik dari itu semua. “ Tidak apa lah, pasti ada rencana yang lebih indah untukku,” ucapku dalam hati. Semua usaha yang sudah aku lakukan, aku percaya tidak akan sia-sia. 

Aku lanjutkan karirku di perusahaan yang sekarang, karena akupun sudah nyaman disini. Saat sedang asik bekerja, ada temanku yang mengajukan pengunduran diri. Setelah aku cari tau, ternyata dia pindah ke perusahaan media di Jakarta, dengan pekerjaan baru sebagai seorang wartawan. “Wah, enaknya,” ucapku dengan sedikit iri di hati.

Motivasiku untuk menjadi jurnalis muncul kembali. Bukan sebagai news anchor, tetapi sebagai penulis berita. Kalau news anchor, jelas sangat sulit untukku. Akhir tahun 2017, aku mencoba membuat blog untuk aku berlatih menulis. Walau saat itu masih pakai blog gratis, karena memang untuk sekedar belajar.

“Sulit juga menulis!,” ucapku dengan penuh keluh. Rasanya, aku lebih baik disuruh menghitung kecepatan buah kelapa yang jatuh dari pohon setinggi 100 meter. Kalau ini jelas ilmu pasti, tinggal masukkan rumus, hasilnya akan ketahuan. Kalau menulis, harus perhatikan tanda baca, ejaan yang sesuai EYD dan lain-lain.

Aku coba membaca tentang cara menulis yang baik. Salah satu kutipan yang masih ku ingat seperti ini “saat inspirasi menulis datang, langsung aja tulis, editnya nanti belakangan.” Kucoba untuk mengikuti arahan dari artikel yang aku baca tadi. Setelah aku praktekan, hasilnya aneh. Banyak kata yang tidak efektif, alur cerita yang tidak nyambung, penggunaan tanda baca yang kurang tepat dan masih banyak lagi. Rasanya aku harus banyak berlatih.

Blogku ini aku buat untuk mengikuti lomba blog yang sering diadakan, entah oleh korporasi atau individu. Apa karena hadiah? Akupun tidak munafik, tentu hadiah menjadi penyemangat lebih untukku. Jauh lebih dari itu, alasan aku ikut lomba blog untuk mengukur kemampuan menulisku. Sesuai dengan apa yang aku yakini “ilmu akan menjaga pemiliknya dari kemiskinan”. Entah kemiskinan materi atau hati. Kalau aku sudah berilmu, tentu materi akan mengikuti dibelakang.

Tak terasa sudah masuk tahun 2019. Satu tahun sudah aku menulis. Ternyata, aku tidak bisa konsisten menulis karena kesibukan yang ada. Waktuku banyak tersita oleh pekerjaan dan usaha kecil-kecilan yang sedang aku rintis. Belum ada prestasi yang aku torehkan saat ini. Setidaknya, aku melihat ada progress yang baik dalam kemampuanku menulis.

Menjadi blogger adalah jalan yang aku pilih saat ini. Blog ini yang akan aku gunakan untuk mengisi portfolioku. Achievement yang bisa aku dapatkan nanti, bisa jadi “pemanis” di curriculum vitae ku dan mengantar aku pada mimpiku, yaitu menjadi seorang jurnalis. Semoga di tahun 2019 ini akan terwujud. Kalaupun tidak menjadi jurnalis di perusahaan media, aku akan menjadi jurnalis independent di blog aku ini.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe