KORINDO MENGINSPIRASI, KETERLIBATAN SWASTA KUNCI SUKSES MEMBANGUN DAERAH TERDEPAN, TERLUAR, DAN TERTINGGAL (3T)

May 09, 2019


Mataku menatap pilu ketika melihat sebuah vlog perjalanan ke sebuah desa di Kalimantan Tengah. Desa Juhu biasa orang memanggilnya. Untuk sampai ke desa ini, membutuhkan waktu perjalanan sekitar 10 jam dari jalan terakhir yang dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Untuk sampai ke desa Juhu, harus melalui beberapa gunung yang masih asri dengan jumlah pacet yang masih banyak.

Desa ini sangatlah indah, karena berada pada ketinggian sekitar 560 mdpl. Udara yang masih bersih dan hamparan rumput yang luas seakan menambah keindahan desa ini. Namun dibalik keindahannya, ada kisah pilu yang harus dilalui oleh warga desa Juhu. Apalagi kalau bukan kondisi desa ini yang masih tertinggal. Selain infrastrukutur jalan yang belum memadai, di desa ini hanya ada 1 sekolah dengan kondisi yang amat memprihatinkan.

Kondisi sekolah yang masih berdindingkan triplek, buku-buku sebagai sarana belajar mengajar yang masih minim, dan jumlah guru yang terbatas, membuat desa ini sedikit tertinggal dibandingkan desa-desa lainnya. Namun dibalik keterbatasan yang ada, hal itu tidak menyurutkan semangat belajar anak-anak di desa Juhu. Begitu juga dengan layanan kesehatan, kalau ada warga yang ingin memeriksakan kesehatan mereka, harus menunggu petugas kesehatan yang datang ke desa mereka.


Desa ini menjadi sedikit gambaran tentang desa-desa terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang ada di Indonesia. Masih banyak tentunya desa-desa yang senasib dengan desa Juhu ini, terutama desa-desa di pelosok Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Tak heran jika sejak 2015 yang lalu, pemerintah berkomitmen untuk membangun daerah 3T ini agar terjadi pemerataan pembangunan.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015 - 2019, disebutkan bahwa ada 122 kabupaten yang termasuk dalam daerah 3T. Beberapa indikator yang digunakan pemerintah dalam menetapkan daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) antara lain: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas, dan karakteristik daerah.


KETERLIBATAN SWASTA, KUNCI SUKSES MEMBANGUN DAERAH 3T

Dalam pembangunan daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T), tentu tidak bisa mengandalkan pemerintah saja, mengingat banyak keterbatasan yang pemerintah hadapi, seperti keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, dan keterbatasan lainnya. Untuk itu dibutuhkan partisipasi semua pihak untuk turut membangun daerah 3T ini, sehingga pemerataan pembangunan tidak sekadar wacana belaka.


 
Salah satu perusahaan yang memiliki komitmen dalam membangun daerah 3T ini adalah Korindo group. Korindo group merupakan perusahaan yang berdiri pada tahun 1969, yang saat itu berfokus dalam mengembangkan produk wood park. Tahun 1979, Korindo mendirikan perusahaan ply wood, dan selanjutnya merambah ke dalam produksi kertas daur ulang, bisnis perkebunan, bisnis kelapa sawit, membangun industri kayu, dan membuat proyek percontohan menanam padi di Merauke.

Korindo membantu pembangunan desa terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). CSR sendiri merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan terhadap keberlanjutan pembangunan guna meningkatkan kualitas kehidupan, baik bagi perusahaan, lingkungan setempat, maupun lingkungan umum secara luas. CSR umumnya dilaksanakan di daerah dimana perusahaan itu beroperasi. Korindo group misalnya, yang menjalankan program CSR di wilayah Kabupaten Boven Digoel dan Merauke, Papua.

Selain karena unit usaha Korindo group berada di Papua, pemilihan Papua ini juga karena masih banyak kabupaten-kabupaten di Papua yang masuk dalam daerah 3T. Daerah 3T seperti di Papua ini harus mendapatkan perhatian lebih, karena wilayah Papua berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Wilayah perbatasan ini harus di tata sebaik mungkin, karena wilayah perbatasan merupakan terasnya Indonesia.

Jika diibaratkan sebuah rumah, wilayah perbatasan ini seperti teras rumah yang berfungsi untuk menerima tamu. Jika terasnya bagus, akan memberikan kesan yang baik bagi tamu yang datang. Juga sebaliknya, jika terasnya buruk dan tidak tertata dengan baik, maka akan memberikan kesan yang buruk bagi tamu tersebut. Teras ini juga dapat dijadikan gambaran mengenai kondisi keseluruhan dalam rumah. Jika terasnya tidak tertata dengan baik, akan memberikan gambaran menyeluruh dari isi rumah tersebut. Itulah mengapa Korindo group fokus bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia, walau dengan segala keterbatasan yang ada.


PERAN KORINDO DALAM MEMBANGUN DAERAH 3T

Korindo group membantu membangun daerah 3T ini mengikuti indikator-indikator yang telah ditetapkan pemerintah, antara lain: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas, dan karakteristik daerah. Adapun pembangunan yang telah dilakukan oleh Korindo Group untuk membantu daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) khususnya di Papua antara lain:
 

1. Korindo Membantu Perekonomian Masyarakat Papua


Indikator daerah 3T yang pertama adalah perekonomian masyarakat. Untuk itu, Korindo group telah mengembangkan konsep industri yang ramah lingkungan melalui pembangunan bidang kehutanan dan perkebunan kelapa sawit. Melalui industri tersebut, Korindo group berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 10.000 karyawan, terutama di wilayah Papua.


Selain itu, Korindo group juga memberikan kesempatan kepada petani di Papua untuk menjadi plasma kelapa sawit. Program plasma kelapa sawit ini dapat meningkatkan kesejahteraan bagi warga Papua, mengingat mereka dapat mengelola kebun sawit sendiri.

2. Korindo Membantu Meningkatkan Sumber Daya Manusia di Papua

Indikator yang kedua adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk itu, ada beberapa kegiatan yang digagas oleh Korindo group untuk meningkatkan kualitas SDM di Papua. Adapun kegiatan yang telah dilakukan antara lain:
 
a. Korindo Group Membina Mama-Mama Papua Budidaya Tanaman Sayuran


Korindo group melalui Divisi Perkebunan Kelapa Sawit, membantu memajukan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Papua. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan menggerakan masyarakat asli Papua terutama kaum wanita untuk menanam tanaman sayur mayur. Hal ini bertujuan agar mereka dapat memenuhi kebutuhan nabatinya sendiri, serta dapat menambah penghasilan perekonomian keluarga.

Sejak Agustus 2018 yang lalu, lahan yang disediakan oleh Korindo group telah ditanami tanaman sayuran. Berbagai jenis sayuran ditanam di lahan perkebunan tersebut, seperti sayur kangkung, sawi, terong, bayam, dan jagung manis. Selain memberikan lahan dan pembinaan, Korindo group juga memberikan bantuan berupa
berbagai macam jenis bibit sayuran .

b. Korindo Group Mengajarkan Masyarakat Papua Menanam Sayuran


Korindo group melalui Divisi Perkebunan Kelapa Sawit di Papua mengadakan program pemberdayaan bagi masyarakat. Program pemberdayaan ini dilakukan oleh Korindo bersama-sama masyarakat lokal dengan memanfaatkan lahan kosong menjadi kebun sayur yang bernilai ekonomis, maupun kesehatan manusia.

Kegiatan perdana ini berlokasi di kampung Aiwat, Distrik Subur, Kabupaten Boven Digoel, Propinsi Papua pada bulan April yang lalu. Lahan yang dipakai untuk budidaya tanaman memiliki luas 10m x 10m, dan rencananya lahan tersebut akan ditanami sayuran seperti kangkung, jagung, cabai dan lainnya. Selain lahan, Korindo group juga memberikan bibit sayur, alat-alat bercocok tanam, dan pengetahuan tentang cara menanam sayuran yang baik.


c. Korindo Group Membantu Pemberdayaan Wanita di Papua


Di desa-desa terpencil di Papua, gadis-gadis penduduk asli hanya memiliki satu pilihan ketika mereka lulus sekolah, yakni sebagai ibu rumah tangga dan pihak yang melahirkan anak. Kehidupan di desa bagi wanita adat, bahkan dimasa sekarang, wanita memiliki beban mengurus rumah tangga termasuk memasak, membersihkan rumah, dan memberi nafkah keluarga.

Tugas laki-laki hanyalah berburu atau terkadang memancing ikan karena peran utama mereka adalah sebagai pejuang atau pelindung tanah adat. Hal inilah yang menginisiasi Korindo group untuk melakukan pemberdayaan wanita di Papua, agar laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Dengan begitu, diharapkan akan muncul pemimpin-pemimpin wanita dari Papua.


3. Korindo Membantu Membangun Sarana dan Prasarana di Papua

Indikator yang ketiga adalah sarana dan prasarana. Keberadaan sarana dan prasarana dalam suatu daerah sangat penting karena dapat meningkatkan kualitas SDM daerah tersebut. Adapun bantuan saran dan prasarana yang telah diberikan oleh Korindo group antara lain:


a. Korindo Membangun Sarana Kesehatan Terbaik di Papua Bernama Klinik Asiki



Pada 2 September 2017 yang lalu, Korindo group meresmikan klinik Asiki. Klinik ini pada awalnya berada di dalam wilayah perusahaan. Namun karena warga sekitar susah mengakses secara langsung, maka didirikanlah Klinik Asiki di luar wilayah perusahaan. Klinik ini memberikan berbagai pengobatan secara cuma-cuma. 

Saat ini, klinik Asiki diperkuat dengan lima orang dokter, dua belas orang perawat, dua orang perawat gigi, dua orang bidan, seorang analis, seorang apoteker, dan beberapa staf administrasi. Dan kedepannya, klinik Asiki akan dilengkapi dengan dokter spesialis, yakni gigi, penyakit dalam, dan anak. Tak hanya itu, tenaga medis di Klinik Asiki juga memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kesehatan.

Selain layanan utama yang disediakan langsung di klinik, Klinik Asiki juga melaksanakan program berupa "Mobile Service" ke kampung-kampung terpencil, terluar, dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan berada yaitu di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Dengan program mobile service ini, petugas klinik Asiki turun ke kampung-kampung sebagai upaya preventif pencegahan penyakit.

b. Korindo Group Membantu Sarana dan Prasarana Pendidikan di Papua

Korindo group ikut membangun madrasah dan PAUD yang terletak di Kota Asiki, Papua. Hal ini dilakukan karena Korindo menyadari bahwa kualitas pengembangan sumber daya manusia merupakan salah satu kunci dalam pengembangan berkelanjutan. Selain itu, Korindo juga memberikan bantuan pengembangan pendidikan dalam bentuk pendanaan, penyediaan fasilitas belajar, dan bus sekolah.


c. Korindo Group Membangun Sarana Ibadah di Papua  

Korindo Group membangun sarana ibadah berupa masjid di Kota Asiki. Masjid ini terbilang cukup besar, dan dapat menampung sekitar 1000 jamaah. Masjid ini senantiasa penuh saat di gunakan untuk sholat jum'at. Meski Kota Asiki di dominasi oleh warga kristen, namun nuansa harmonisnya kota ini cukup terasa. Terlihat toleransi beragama yang cukup tinggi di kota ini.

  

4. Korindo Membantu Meningkatkan Keuangan Daerah Papua


Indikator daerah 3T yang keempat adalah keuangan daerah. Korindo group membantu meningkatkan pendapatan keuangan daerah melalui sektor pajak. Tercatat jumlah pajak daerah yang telah dibayarkan oleh Korindo group di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel mencapai 30% dan 50% dari total penerimaan daerah di masing-masing kabupaten tersebut. Dengan penerimaan daerah yang meningkat ini diharapkan kabupaten di Papua dapat semakin sejahtera.

5. Korindo Membantu Membangun Aksesibilitas Jalan di Papua

Indikator daerah 3T yang kelima adalah aksesibilitas jalan. Aksesibiltas jalan ini penting bagi sebuah daerah karena dapat mempermudah jalur distribusi barang antar daerah. Adapun pembangunan aksesibilitas jalan yang telah dilakukan oleh Korindo group antara lain:


a. Korindo Membangun jembatan Kali Totora di Desa Prabu-Asiki, Papua


Korindo group merenovasi jembatan Kali Totora yang sebelumnya terbuat dari kayu. Renovasi ini dilakukan karena jembatan mengalami kerusakan sehingga dikhawatirkan membahayakan keselamatan bagi para penggunanya. Renovasi jembatan ini sangat penting mengingat jembatan ini adalah prasarana yang menghubungkan Kampung Aiwat dengan wilayah-wilayah lainnya yang berada di Distrik (Kecamatan) Jair dan Distrik Subur.



PENUTUP

Membangun perbatasan jadi terasnya Indonesia memang bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat banyak keterbatasan yang harus dihadapi, seperti infrastruktur yang belum memadai, sarana dan prasarana penunjang yang masih minim, dan sumber daya manusia yang masih terbatas. Untuk itulah butuh partisipasi segenap rakyat Indonesia untuk bersama-sama menyingkirkan segala rintangan yang ada.

Peran serta pihak swasta pun tak kalah penting, dimana pihak swasta dapat menutupi segala keterbatasan yang ada pada pemerintah. Melalui program CSR, pihak swasta dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan perekonomian, khususnya daerah 3T, membantu meningkatkan sumber daya manusia (SDM), membantu memenuhi saran dan prasarana yang ada, membantu meningkatkan keuangan daerah, dan membantu meningkatkan kesejahteraan warga. Jika itu semua dapat terpenuhi dengan baik, maka akan membuat tiap desa memiliki daya saing yang baik, sehingga akan terjadi perubahan yakni perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe