PERAN KELUARGA DAN MASYARAKAT DALAM MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI PADA ANAK

September 29, 2019


Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang banyak. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang unggul. Umumnya, bangsa yang maju ditandai dengan tingkat literasi yang tinggi. Literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan untuk memiliki kecakapan hidup agar dapat bersaing dan bersanding dengan negara lain.

Sayangnya, tingkat literasi di Indonesia cukup rendah dibandingkan negara lain. Menurut data yang dikutip dari UNESCO tahun 2012 lalu, indeks tingkat membaca orang Indonesia hanya 0,001. Itu artinya, dari 1000 penduduk Indonesia, hanya 1 orang penduduk yang mau membaca buku. Dengan jumlah penduduk mencapai 260 juta jiwa, hanya 260 ribu orang yang memiliki minat membaca buku.

Dalam laporan lain yang berjudul “World’s Most Literate Nations” yang dirilis oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, peringkat literasi Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya unggul dari Botswana, sebuah negara di Afrika bagian selatan.

Fakta tersebut diperkuat oleh hasil survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut hasil survey mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia tahun 2012, diketahui bahwa hanya 17,66 persen anak-anak yang memiliki minat membaca. Sementara anak-anak yang memiliki minat menonton cukup banyak, yakni sebesar 91,67 persen.

Melihat kenyataan ini, pemerintah mencanangkan beberapa program sebagai upaya meningkatkan literasi di Indonesia. Program-program tersebut antara lain : Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Literasi Bangsa (GLB), dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Tak hanya itu, pemerintah juga menggratiskan biaya pengiriman buku kepada pegiat literasi, agar buku-buku dapat terdistribusi hingga ke daerah-daerah terpencil.

Tentu, upaya mengenalkan budaya literasi kepada anak tidak dapat dibebankan kepada pemerintah saja, tetapi juga pihak-pihak lain. Pihak yang dapat mengambil peran dalam mengenalkan budaya literasi kepada anak adalah keluarga dan masyarakat. Hal ini karena anak merupakan cermin dari keluarga dan lingkungan masyarakatnya. Jika seorang anak besar dan tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakat yang literat, maka anak juga akan menjadi literat. Juga sebaliknya, jika seorang anak tumbuh dan besar pada lingkungan keluarga dan masyarakat yang tidak literat, maka anak juga tidak akan menjadi literat. 


PERAN KELUARGA DALAM MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI PADA ANAK 


Menumbuhkan jiwa literat pada seorang anak bukanlah perkara yang mudah. Bukan pula seperti barang yang dapat ditransplantasi dari orang tuanya. Budaya literasi dalam diri anak tumbuh secara perlahan dan harus dilatih perkembangannya. Jiwa literat seorang anak dapat tumbuh dalam keluarga yang kondusif.

Untuk itu, orang tua harus menciptakan situasi yang kondusif dan literat dalam keluarganya. Orang tua dapat melibatkan anak dalam setiap kegiatan literasi di rumah, karena ciri dari keluarga literat adalah terjadinya diskusi tentang apa yang mereka lihat, lakukan, dan alami, termasuk berbagai buku yang mereka baca, musik yang mereka dengar, atau film yang mereka lihat (Musthafa, 2009:6).

Cara menciptakan keluarga yang literat dimulai dengan menjadi orang tua yang literat, karena orang tua merupakan teladan bagi anak-anaknya. Jika orang tua terbiasa dengan kegiatan literasi, maka akan ditiru dan dicontoh oleh anaknya. Orang tua yang literat akan selalu mengupayakan agar anaknya menjadi seorang yang literat juga, karena mereka telah paham akan pentingnya sebuah literasi.

Pengenalan budaya literasi pada anak lebih baik dilakukan sedini mungkin, agar jiwa literat anak dapat tumbuh secepat mungkin. Selain itu, pengenalan budaya literasi sejak dini dapat menjadi fondasi bagi kehidupan anak di masa mendatang. Jika pengenalan literasi ini dilakukan sejak dini, maka hasil yang didapatkan juga akan lebih optimal.

Pengenalan budaya literasi sejak dini dilakukan karena faktor golden age seorang anak. Golden age merupakan masa dimana seorang anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Usia golden age seorang anak berada pada rentang usia 0-6 tahun. Pengenalan budaya literasi sejak dini kerap disebut pramembaca atau pramenulis.

Sayangnya, upaya mengembangkan minat literasi pada anak masih menemui banyak hambatan. Hambatan yang paling banyak ditemui antara lain : orang tua yang terlalu sibuk bekerja sehingga menyerahkan semua kegiatan literasi anak kepada pihak sekolah, dan orang tua yang mengajarkan teknik stimulasi yang keliru. Harusnya, teknik stimulasi dibedakan antara anak usia prasekolah dan anak usia sekolah. Hal ini agar teknik stimulasi yang diberikan tepat sasaran dan hasil yang didapat menjadi lebih optimal.


TEKNIK STIMULASI LITERASI PADA ANAK PRASEKOLAH


Stimulasi adalah dorongan atau rangsangan yang dilakukan agar kemampuan dasar seorang anak tumbuh secara optimal. Adapun teknik stimulasi yang dapat diterapkan orang tua kepada anak prasekolah antara lain:

Pada anak usia 0-1 tahun, teknik stimulasi yang dapat diberikan adalah mendongeng. Dongeng yang dipilih bisa disesuaikan dengan usia anak dan memiliki karakter yang positif. Sambil mendongeng, orang tua dapat menyisipkan pesan moral dari tokoh dalam dongeng tersebut, seperti pentingnya kejujuran, tanggung jawab, sikap tolong menolong, dan lain-lain.

Pada anak usia 1-2 tahun, teknik stimulasi yang dapat diberikan adalah mengenalkan huruf. Caranya, tempelkan sebuah kertas yang sudah dituliskan sebuah huruf di tempat anak bermain, di tempat tidur, di kamar mandi, dan di tempat lain di mana biasanya anak berada. Untuk jumlah huruf yang ditempel cukup 2 saja dulu. Setelah itu, ajarkan anak mengenal huruf tersebut, dan minta agar anak mengulangi. Biarkan huruf-huruf itu terrekam dalam memori anak. Setelah huruf tersebut dihafal oleh anak, dapat diganti dengan huruf setelahnya.

Pada usia 3-4 tahun, teknik stimulasi yang dapat digunakan adalah menulis dan berhitung. Untuk stimulasi menulis, buatlah huruf dan angka berupa titik-titik. Kemudian, mintalah anak agar menebali titik-titik huruf tadi. Untuk stimulasi berhitung, gunakan barang-barang yang dekat dengan anak. Misalnya, ajarkan menghitung jumlah mainannya, atau menghitung jumlah binatang yang dipelihara.

Pada anak 4-6 tahun, teknik stimulasi yang dapat digunakan adalah membaca, mewarnai, dan melatih logika berpikir anak. Untuk mewarnai, berikan anak sebuah gambar yang belum diwarnai. Kemudian, suruhlah anak untuk mewarnai gambar tersebut. Teruskan kebiasaan tersebut agar tangannya terlatih.

Untuk stimulasi membaca, berikan anak sebuah buku cerita dengan gambar dan warna yang menarik agar menarik perhatiannya. Orang tua harus selalu menemani ketika anak sedang membaca. Hal ini bertujuan agar dapat menjelaskan hal-hal yang tidak diketahui oleh anak. Lakukan kebiasaan ini berulang-ulang. Untuk melatih logika berpikir anak, berikan anak permainan berupa puzzle. Biarkan anak menyusun puzzle-puzzle tersebut. 

Selain itu, orang tua dituntut untuk lebih kreatif dalam mengemas teknik stimulasi pada anak prasekolah. Hal ini bertujuan agar proses stimulasi literasi pada anak tidak berjalan monoton. Misalnya mengenalkan literasi digital. Literasi digital merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. 

Pemahaman literasi digital sangat dibutuhkan oleh anak, karena saat ini terjadi pergeseran media informasi dari cetak ke digital. Beberapa teknik stimulasi yang dapat digunakan mengunakan teknologi adalah menggambar dan mewarnai menggunakan smartphone, tablet, komputer, atau perangkat digital lainnya.


TEKNIK STIMULASI LITERASI PADA ANAK USIA SEKOLAH

Teknik stimulasi literasi pada anak usia sekolah yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

1. Sediakan Buku Bacaan di Rumah


Orang tua harus menyediakan bahan bacaan di rumah. Bahan bacaan yang disediakan dapat disesuaikan dengan minat anak, misalkan novel, komik, majalah, koran, dan lain-lain. Dengan kehadiran bahan bacaan di rumah, akan mempermudah anak mengakses bahan bacaan. Dengan begitu, anak akan menjadi terbiasa membaca. 

2. Orang Tua Menjadi Contoh Untuk Anak


Sifat alamiah seorang anak adalah mengikuti dan mencontoh dalam segala hal, termasuk dalam kegiatan literasi. Orang tua dapat menjadi contoh kegiatan literasi di rumah. Orang tua harus meluangkan waktu setiap hari untuk sekadar membaca, baik sebelum berangkat bekerja ataupun setelah pulang bekerja. Dengan begitu, anak akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang tuanya. 

3. Orang Tua Harus Rajin Membacakan Buku Untuk Anak


Orang tua harus rajin membacakan buku untuk anak, baik ketika anak belajar maupun ketika anak hendak tidur. Buku bacaan yang dipilih harus disesuaikan dengan kondisi dan umur anak. Ketika sedang belajar, orang tua bisa membacakan buku tentang ilmu pengetahuan. Jika anak hendak tidur, orang tua dapat membacakan dongeng–dongeng legendaris. Tentunya, dongeng-dongeng yang dibaca harus bermuatan karakter yang baik, sehingga anak dapat meniru dan mencontoh.

4. Orang Tua Harus Sering Berkomunikasi Dengan Anak Terkait Bacaan


Orang tua harus meluangkan waktu untuk dapat berkomunikasi dengan anak mengenai buku yang telah dibaca. Orang tua juga dapat meminta diceritakan hasil bacaan anaknya, pengalaman menarik, atau kesulitan yang dihadapi anak saat membaca. Komunikasi semacam itu, akan menambah motivasi anak dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi anak ketika membaca. 

5. Libatkan Anak Hendak Membeli Buku


Orang tua harus melibatkan anak ketika hendak membeli buku. Berikan kebebasan kepada anak untuk membeli buku yang ia sukai. Namun, orang tua harus tetap mengawasi dan melarang ketika buku yang ingin dibeli oleh anak tidak sesuai untuk umurnya. 


6. Ajak Anak ke Perpustakaan Umum


Gunakan libur akhir pekan untuk mengajak anak mengunjungi perpustakaan. Berikan kesempatan kepada anak untuk meminjam buku yang ia suka untuk dibaca di rumah. Dengan begitu, akan terjadi kedekatan emosional antara anak dengan perpustakaan, sehingga perpustakaan menjadi tempat yang tidak asing untuknya. 

7. Hadiahkan Buku Kepada Anak


Sudah fitrah manusia ingin selalu diapresiasi ketika berprestasi. Untuk itu, berikan hadiah berupa buku kepada anak ketika ia meraih prestasi di sekolah maupun di luar sekolah. Berikan pula penjelasan mengapa anda lebih memilih memberikan hadiah berupa buku dibandingkan barang lainnya. Dengan begitu, anak akan menjadi lebih paham mengenai penting dan bermanfaatnya sebuah buku bagi anak itu di masa depan.


PERAN MASYARAKAT DALAM MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI PADA ANAK



Masyarakat memiliki pengaruh yang besar bagi karakter seseorang. Seperti diketahui, faktor terbesar yang memengaruhi karakter seseorang selain gen adalah masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu didorong ke arah positif mengingat besarnya dampak dari masyarakat kepada karakter seseorang.

Dalam ruang lingkup literasi, masyarakat perlu didorong agar dapat mengambil peran untuk menciptakan masyarakat literat di mana masyarakat itu berada. Adapun peran yang dapat dilakukan antara lain:

Pertama, membangun pusat belajar dan taman bacaan masyarakat. Pusat belajar dan taman bacaan ini didirikan untuk memfasilitasi kegiatan literasi di masyarakat. Kegiatan-kegiatan pusat belajar dan taman bacaan masyarakat harus dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan literasi warga. Dengan begitu, fungsi pusat belajar dan taman bacaan masyarakat akan menjadi lebih maksimal.

Kedua, sosialisasi kepada masyarakat dan penjaringan anggota kampung literasi. Sosialisasi ini dapat dilakukan dengan kegiatan berupa kampanye untuk menggugah kesadaran warga akan pentingnya literasi dalam hidup. Selain itu, pengurus kampung literasi harus menjaring warga sebanyak mungkin, agar banyak orang yang mendapat manfaat dari kehadiran kampung literasi.

Ketiga, mengembangkan layanan literasi keliling. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan memberi edukasi tentang pentingnya budaya literasi bagi seseorang. Hal ini dapat dilakukan dengan berkeliling kampung, agar dapat menjangkau warga yang berada di pelosok kampung sekalipun.

Keempat, memberikan pelatihan-pelatihan dan pembinaan masyarakat bidang literasi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengajarkan anak-anak membaca, menulis, dan memahami tulisan yang dibacanya. Selain itu, dapat dilakukan kegiatan lain seperti meresensi buku yang telah dibaca, atau mengajarkan teknik menulis cerita. 


PENUTUP


Dengan keterlibatan semua pemangku kepentingan, baik keluarga, masyarakat, maupun pemerintah, diharapkan agar Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dari negara lain dalam hal literasi. Dengan membaiknya tingkat literasi di Indonesia, akan memunculkan sumber daya manusia yang unggul dan dapat bersaing dengan sumber daya manusia negara lain, yang akhirnya akan membawa Indonesia menjadi negara maju.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga 

You Might Also Like

0 comments

Subscribe