PULAUKU NOL SAMPAH; GERAKAN SADAR BENCANA DI PULAU PRAMUKA

September 19, 2019


Ikan Paus yang mati di perairan Wakatobi (Sumber: idntimes.com)

Tubuh besarnya terkapar, berlendir, dan lemah tak berdaya. Tak terlihat lagi kebuasan yang menjadi jati dirinya. Dengan tubuh yang mulai membusuk, jasadnya terombang-ambing hingga ke tepi pantai.

***

Berita tentang kematian seekor paus sperma yang terjadi di sebuah pantai di Italia, tersiar hingga Indonesia. Baik media cetak dan elekronik ramai-ramai memberitakan. Akun-akun di media sosial pun ikut mengabarkan, dan banyak mendapat empati dari khalayak ramai. Diketahui, paus yang sedang hamil itu mati setelah menelan sampah plastik sebanyak 22 kilogram.

Kejadian ini bukan yang pertama. Pada November 2018 lalu, ditemukan pula paus sperma yang mati di perairan Wakatobi. Pada perut Paus Sperma ini, ditemukan sampah plastik sebanyak 5,9 kilogram. Tentu masih banyak kejadian matinya hewan-hewan akibat memakan sampah plastik. Kejadian ini harusnya membuka kesadaran bahwa sampah plastik merupakan permasalahan yang serius, dan harus segera ditanggulangi.

Sampah-sampah yang menyemari lautan ini tentu berdampak pada ekosistem laut. Banyak biota laut yang menganggap sampah plastik ini adalah makanannya. Akhirnya, biota laut ini banyak yang mati akibat racun yang terdapat dalam sampah plastik. Banyaknya biota laut yang mati pada akhirnya mengurangi pendapatan nelayan setempat. Salah satu nelayan yang merasakan dampak dari sampah plastik yang mencemari laut ini adalah nelayan di Pulau Seribu.

Sampah-sampah yang mengotori perairan di Pulau Seribu berasal dari muara-muara di Jakarta. Walau ada juga sampah dari warga setempat yang masih nakal untuk membuang sampah di laut. Bertekad untuk merubah kondisi tempat tinggal mereka, warga yang ada di Pulau Seribu membuat gerakan "Pulauku Nol Sampah." Lalu bagaimana kondisi Pulau Seribu saat ini? Rasa penasaran terus menggelayut di benak saya, dan membuat saya ingin mengunjungi dan melihat langsung perubahan setelah gerakan "Pulauku Nol Sampah" ini berjalan.


BERKUNJUNG KE RUMAH HIJAU



Cuaca di minggu pagi ini terlihat cerah. Matahari pun terlihat telah menerangi pagi yang sayu. Berteman langit biru yang menghampar luas, menjadi pertanda aktivitas hari ini harus segera di mulai. Ditemani sang surya yang menyinari dan memberi kehangatan tubuh ini. Saya berangkat menuju Pulau Pramuka, sebuah tempat yang sudah saya rencakan jauh hari. Bukan untuk berlibur, namun untuk berkunjung ke Rumah Hijau, sebuah komunitas yang menginisiasi lahirnya gerakan "Pulauku Nol Sampah" di Pulau Seribu.

Cahaya matahari yang menyilaukan mata menemani perjalanan pagi itu. Melalui jalan beraspal, kendaraan saya arahkan menuju pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta. Mengunakan moda transportasi kapal laut, butuh waktu 2 jam untuk sampai ke Pulau Pramuka. Ditemani semilir angin dan deru ombak yang terus berhembus, perjalanan ini terasa amat menyenangkan.

Gapura berwarna oranye bertuliskan "Kepulauan Seribu" telah ada di hadapan saya, yang artinya saya telah sampai di Pulau Pramuka. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Secara administratif, Pulau Pramuka termasuk ke dalam Kelurahan Pulau Panggang. Dengan luas wilayah mencapai 16, 73 hektar, pulau ini dihuni sekitar 2.000 juta jiwa.

Sejauh mata memandang, gradasi warna yang cantik antara biru muda dan biru tua menghampar luas di pandangan saya. Tak terlihat ada gunungan sampah di Pulau Pramuka. Terlihat bahwa moto "Pulauku Nol Sampah" bukan hanya semboyan semata, melainkan komitmen nyata dari warga yang ada di Pulau Seribu.


MAHARIAH, INSPIRATOR SADAR BENCANA DI PULAU SERIBU



Kesadaran warga Pulau Seribu untuk menjaga lingkungannya tak terlepas dari peran Ibu Mahariah, seorang guru agama di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 17 Pulau Panggang. Kondisi hidup di Pulau Seribu yang tidak senyaman dahulu membuatnya bergerak untuk menyelesaikan semua permasalah yang ada. Harapannya hanya satu, yaitu dapat hidup dengan nyaman di pulau dimana ia lahir.

Sejak 2006, ia menjabat sebagai ketua Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Samo-samo. Berkerjasama dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu, ia dan beberapa nelayan di Pulau Seribu aktif melakukan akivitas penghijauan di Pulau Seribu. Aktivitas penghijauan yang dilakukan antara lain penanaman bibit mangrove dan perbaikan ekosistem laut.

Aktivitas penanaman pohon mangrove di lakukan di sepanjang bibir pantai Pulau Seribu. Hal ini dilakukan untuk mencegah abrasi tepi pantai yang kerap terjadi akibat perubahan iklim. Awal melakukan penanaman mangrove, banyak kesulitan yang ia hadapi. Dari pohon mangrove yang ia tanam, tidak semuanya dapat tumbuh. Ada yang tumbuh dengan baik, namun ada pula yang mati.

"Pohon mangrove akan lebih baik di tanam ketika berusia 3 bulan karena kemampuan adaptasi masih baik," ucap Ibu Mahariah menjelaskan.

Selain melakukan penanaman mangrove, Ibu Mahariah dan nelayan pulau seribu akif melakukan perbaikan ekosistem laut dengan cara budidaya terumbu karang. Budidaya terumbu karang dilakukan di Area Perlindungan Laut Pulau Seribu. Budidaya terumbu karang ini dilakukan karena minimnya pengetahuan warga akan pentingnya terumbu karang bagi keberlangsungan hidup biota laut.

"Rusaknya terumbu karang akan memutus rantai makanan biota laut, sehingga jumlah ikan menjadi sedikit, yang akhirnya tangkapan ikan para nelayan pun menjadi sedikit," ucap Ibu Mahariah.

Akivitas penghijauan yang dilakukan ini sedikit demi sedikit mulai menunjukkan hasil. Pohon mangrove yang ditanam mulai tumbuh dengan baik dan memberi sedikit harapan. Ikan-ikan kecil terlihat bermain-main di sekitar mangrove. Namun nahas, sampah-sampah yang ada di tepi pantai membuat tumbuhan mangrove sulit berkembang, dan akhirnya mati. Ikan-ikan kecil itu pun berlarian entah kemana.

Sampah benar-benar meluluhlantahkan semua. Matinya penyu dan rusaknya mangrove di Pulau Seribu dikarenakan sampah. Sampah menjadi momok yang harus segera dicari solusinya. Bersama beberapa nelayan, ia aktif membersihkan tepi pantai dari sampah. Ternyata, sampah yang ada di Pulau Seribu tidak hanya hasil kiriman muara di Jakarta, tetapi juga dari wisatawan.

Ia menilai, kesadaran wisatawan yang datang ke Pulau Seribu masih rendah. Faktanya, masih banyak wisatawan yang membuang sampah ke laut. Tahun 2007, dibuatlah program ecowisata untuk para wisatawan yang berlibur di Pulau Seribu. Program ecowisata dibuat untuk mengedukasi para wisatawan tentang peningnya menjaga alam. Kegiatan yang dilakukan pada program ini antara lain: menanam mengrove, mendaur ulang sampah, dan lain-lain.

"Sudah saatnya objek wisata di Pulau Seribu berubah, dari yang awalnya mengeksploitasi alam, menjadi wisata yang berorientasi pada alam," ucap Ibu Mahariah.


MENJAGA ALAM DIMULAI DARI KITA


Ternyata, masalah sampah tidak selesai jua. Sampah yang ada di Pulau Seribu tetap ada, baik di pesisir pantai maupun di pemukiman warga. Ternyata, masih ada warga yang membuang sampah rumah tangga di laut. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan yang dalam. Ternyata, masih ada warga yang belum sadar akan pentingnya menjaga alam.

Padahal dengan menjaga alam, alam akan jaga kita. Kemudian, dibuatlah program yang diberi nama Rumah Hijau. Tujuan dibentuknya Rumah Hijau yaitu untuk membentuk rumah tangga yang ramah lingkungan dan berketahanan pangan. Anggota Rumah Hijau mayoritas adalah ibu-ibu rumah tangga. Hal ini karena laki-laki di Pulau Seribu lebih sibuk bekerja dengan menjadi nelayan atau buruh lepas.

Program yang dibuat untuk mengatasi masalah yang ada di Pulau Seribu antara lain: pembuatan bank sampah, mengelola sampah menjadi kerajinan, penanaman sayur organik, dan lain-lain. Di rumah hijau pula, ibu-ibu diajarkan untuk menjaga lingkungan Pulau Seribu yang dimulai dari rumah mereka. Salah satu caranya dengan mengajarkan agar dapat memisahkan antara sampah organik dan sampah non organik.

Pemisahan ini dilakukan agar rumah hijau dapat dengan mudah mengelola limbah-limbah ini. Untuk sampah organik, akan diolah menjadi biogas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif bagi warga. Untuk proses pembuatan biogas dimulai dengan mengumpulkan sampah organik. Setelah terkumpul, limbah tersebut diberi ragi agar membusuk, dan gas hasil pembusukannya ditampung dalam sebuah tangki yang disebut tangki biodigester.

Untuk sampah non organik akan dikumpulkan di bank sampah, karena bank sampah akan menghargai setiap sampah yang dibawa oleh warga. Hal ini dilakukan untuk menambah semangat warga dalam mengumpulkan sampah. Untuk pengumpulan sampah non organik di bank sampah ini ada standardnya, yakni sampah-sampah ini sudah harus dipotong-potong dan dimasukan kedalam botol air mineral atau yang biasa disebut ecobrick.

 


Ecobrik yang terkumpul ini akan di kumpulkan di rumah hijau untuk selanjutnya diolah. Proses pengolahannya yaitu dengan mencampurkan antara ecobrick, syrofoam, dan zat kimia. Campuran ketiganya kemudian dibuat menjadi berbagai kerajinan bernilai ekonomis tinggi seperti tas, dompet ataupun batako.

 


Untuk mensosialisasikan program bank sampah, para anggota Rumah Hijau melakukan kegiatan grebek sampah. Program grebek sampah dilakukan dengan mendatangi rumah warga satu per satu. Selain mengajak untuk memberikan informasi mengenai proses pemilahan antara sampah organik dan non organik. Kegiatan ini juga dilakukan pemberian plastik sampah agar warga memiliki tempat untuk memisahkan sampah.

Selain itu, warga di Pulau Seribu juga diajarkan cara menanam sayur dengan teknik hydroponik. Program ini dibuat agar setiap rumah tangga memiliki ketahanan pangan yang baik. Hal ini dilakukan karena saat ini sayuran yang ada di Pulau Seribu merupakan sayuran hasil kiriman dari Jakarta, yang harganya kadang melambung tinggi.


MENGINSPIRASI HINGGA PELOSOK NEGERI



Gerakan #Pulauku Nol Sampah ini benar-benar telah mengubah kondisi lingkungan di Pulau Seribu. Pulau yang semula kotor karena sampah, kini berubah menjadi bersih dan asri. Banyak pohon-pohon hijau yang menghiasi setiap rumah di Pulau Seribu.

Dengan kekuatan media massa dan media sosial, keberhasilan Pulau Seribu dalam mengubah kondisi lingkungannya mendapat apresiasi seluruh rakyat Indonesia. Pulau Seribu menjadi kampung percontohan. Tak heran, sejak 2016, banyak instansi atau lembaga yang datang ke Pulau Seribu untuk belajar bagaimana cara pengelolaan sampah di kampung ini.

Atas prestasinya yang telah diitorehkan dan inspirasi yang telah ditebar ke seantero negeri membuat Ibu Mahariah dan Pulau Seribu mendapat banyak penghargaan, baik dari pemerintah maupun swasta. Tahun 2013, warga Pulau Pramuka meraih penghargaan wahana lestari untuk kategori kelompok tani hutan. Penghargaan ini diberikan karena warga Pulau Pramuka dianggap telah konsisten melakukan penanaman mangrove.

Tahun 2016, warga RW 04 Pulau Pramuka meraih penghargaan program kampung iklim tingkat daerah dari Kementerian Lingkungan Hidup. Tahun 2018, Pulau Pramuka meraih penghargaan kalpataru tingkat Provinsi DKI Jakarta. Dan untuk ibu Mahariah sendiri, tahun 2017, ia meraih penghargaan kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Tentu, penghargaan ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari segalanya. Masih banyak tugas yang harus di selesaikan oleh Rumah Hijau, salah satunya diantaranya memberikan edukasi kepada anak-anak muda di Pulau Pramuka untuk dapat mencintai lingkungannya. Untuk itu, dibuatah kelas iklim bagi anak-anak muda di Pulau Pramuka.

 


Kelas iklim dibuat dengan menggabungkan konsep antara belajar dan bermain. Konsep ini dipilih agar anak-anak merasa senang menjalaninya. Di kelas iklim, anak-anak diajarkan tentang cara membudidaya tanaman mangrove, cara mengelola sampah dengan baik, cara menanam dengan teknik hydroponik, dan yang tak kalah penting yaitu mengajarkan agar tidak membuang sampah sembarangan. Dengan kegiatan ini diharapkan akan muncul generasi yang mencintai lingkungan karena kelak merekalah yang akan meneruskan tugas untuk menjaga lingkungan di Pulau Seribu.


BELAJAR DARI RUMAH HIJAU



Dari kunjungan ke Rumah Hijau ini banyak pelajaran yang dapat saya petik. Kita tidak dapat berpangku tangan dan menyerahkan semua permasalahan lingkungan kepada pemerintah, karena mereka pun memiliki keterbatasan. Butuh kerjasama seluruh pihak untuk mengatasi semua masalah yang ada, seperti sampah misalnya.

Kita bisa menjaga lingkungan dimulai dari lingkungan rumah kita sendiri. Tidak membuang sampah sembarangan dan memisahkan antara sampah organik dan non organik adalah contoh mudah yang dapat dilakukan. Jika hal ini dapat dilakukan pada setiap rumah tangga, maka akan tercipta lingkungan yang baik. Sehingga permasalahan akibat sampah yang kerap terjadi seperti banjir ataupun matinya ekosistem laut dapat ditanggulangi.

Mari kita timbulkan budaya sadar bencana sedari dini, agar bencana yang kerap terjadi tidak datang menghampiri. Dan tumbuhkan kesadaran bahwa dengan kitajaga alam, alam jaga kita.




You Might Also Like

0 comments

Subscribe