PERAN ZAKAT DALAM MENGURANGI ANGKA PUTUS SEKOLAH

October 20, 2019


Tingkat pendidikan dalam suatu negara dapat menjadi indikator kemajuan suatu bangsa. Pendidikan berfungsi sebagai pencetak generasi penerus bangsa. Tingkat pendidikan yang baik, akan membuat sumber daya manusia suatu negara menjadi unggul, sehingga dapat bersaing dan bersanding dengan negara lain.

Memperoleh pendidikan yang layak merupakan hak setiap anak bangsa. Untuk itu, pemerintah wajib memberikan pendidikan yang berkualitas dan merata. Hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dilindungi oleh Undang-Undang. Sesuai Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.” Sedangkan pada ayat 2 berbunyi “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.”

Nyatanya, belum semua anak-anak di Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak. Banyak yang harus putus sekolah karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan. Hal ini karena belum semua sekolah digratiskan, terutama untuk sekolah swasta. Data kemendikbud menunjukkan, tahun 2017-2018, ada 187.824 anak putus sekolah, dari pendidikan dasar hingga menengah atas.

Mengingat pentingnya peran pendidikan dalam kemajuan sebuah bangsa, maka perlu dicari solusi untuk mengurangi angka putus sekolah. Satu solusi yang dapat ditempuh yakni memaksimalkan peran zakat.


ZAKAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Banyak definisi mengenai zakat yang mengemuka di ruang publik, namun menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar, zakat adalah membagikan sebagian dari harta yang sejenis yang sudah sampai nashab selama setahun, dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya yang bukan dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Zakat merupakan salah satu dari lima rukun islam.

Banyak hikmah yang didapat dari disyariatkannya zakat kepada manusia, salah satunya adalah mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Dengan zakat, harta kekayaan tidak hanya dimiliki oleh si kaya, tetapi juga si miskin. Dengan begitu, akan terjadi pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat.

Hukum menunaikan zakat bagi seorang muslim adalah wajib jika telah memenuhi syarat. Diantara yang menjadi syarat seseorang wajib berzakat yaitu islam, merdeka, berakal dan baligh, dan memiliki nishab. Nishab yang dimaksud adalah harta yang lebih dari keperluan. Namun, masih banyak yang enggan untuk menunaikan zakat walau telah terpenuhi semua syarat-syaratnya.

Padahal, ancaman bagi orang yang enggan untuk menunaikan zakat amatlah pedih. Ancaman-ancaman tersebut dapat kita temui dalam nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadist. Berikut ancaman-ancaman untuk orang yang enggan menunaikan zakat walau telah memenuhi syarat:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka :”Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah : 34-35).

“Sekali-sekali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya, menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu kelak akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat.” (QS. Ali Imron : 180)

“Barang siapa yang Allah telah berikan harta kepadanya, kemudian dia tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti, hartanya akan berujud ular yang botak yang mempunyai dua titik hitam di atas kepalanya yang mengalunginya, kemudian mengambil dengan kedua sisi mulutnya sambil berkata: “Aku adalah simpananmu, aku adalah hartamu.” Kemudian beliau membaca ayat: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya, menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka, harta-harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhori Kitab Zakat 3:268 no.1403, dan Muslim Kitab Zakat 7:74 no. 2294)

Tentu masih banyak nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadist yang menjelaskan tentang ancaman orang yang tidak menunaikan zakat. Untuk itu, cukuplah ancaman ini menjadi pengingat agar kita selalu menunaikan zakat. Apalagi zaman sekarang pembayaran zakat semakin mudah, karena banyak lembaga zakat yang telah menggunakan teknologi informasi. Jadi, tidak ada lagi alasan sibuk dan malas mengantri ketika tiba waktu untuk membayar zakat, karena pembayaran zakat dapat dilakukan dari rumah melalui gawai yang terkoneksi internet.


MEMAKSIMALKAN POTENSI ZAKAT UNTUK MENGURANGI JUMLAH PUTUS SEKOLAH

Pemanfaatan zakat untuk peningkatan pendidikan dengan mengurangi angka putus sekolah telah lama dijalankan, terutama ketika munculnya lembaga amil zakat yang kredibel, amanah, dan professional. Banyak kebijakan yang telah dijalankan oleh lembaga amil zakat untuk mengurangi angka putus sekolah, diantaranya: membangun sekolah, menggratiskan biaya pendidikan untuk anak kurang mampu, pemberian beasiswa, hingga pemberdayaan masyarakat miskin.

Walau angka putus sekolah terus menurun tiap tahunnya, namun hingga saat ini angka putus sekolah masih cukup tinggi. Hal ini karena potensi zakat yang ada belum sepenuhnya dapat dimaksimalkan. Banyak faktor tentunya, rendahnya kesadaran para muzakki, hingga bantuan yang disalurkan hanya bersifat konsumtif.

Menurut Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), realisasi penerimaan zakat masih jauh di bawah potensi. Pada tahun 2018, realisasi penerimaan zakat hanya 8.100 miliar rupiah dari potensi zakat sebesar 217 triliun rupiah.

Untuk itu, penulis mengajukan beberapa saran agar pemerintah dapat memaksimalkan potensi zakat yang ada.

Pertama, membangun sinergitas antara Badan Amil Zakat (Baznas) dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Kerjasama ini sebagai upaya mengenalkan zakat dan manfaatnya melalui masjid-masjid di Indonesia. Dengan begitu, para muzakki dapat lebih paham mengenai hukum zakat, ancaman bagi yang tidak menunaikan zakat, cara menghitung nishab dan haul, dan paham bagaimana cara membayar zakat ke lembaga atau badan amil zakat.

Kedua, membangun sinergitas antara Badan Amil Zakat dengan Direktorat Jenderal Pajak. Sinergitas ini dibutuhkan untuk mendata warga yang memiliki penghasilan tetap dan harta lebih setelah digunakan untuk keperluan sehari-hari (nishab). Setelah mendapat data para muzakki, badan amil zakat harus rutin memberikan himbauan untuk berzakat melalui surel atau pesan singkat.

Ketiga, memberikan kemudahan untuk para muzakki menunaikan zakat. Saat ini para muzakki memang dimudahkan dengan adanya aplikasi zakat, sehingga para muzakki dapat membayar zakat melalui gawai. Namun, tidak semua orang paham akan teknologi. Untuk itu, lembaga atau badan amil zakat dapat membuat posko pembayaran zakat yang berada di tengah masyarakat.

Setelah dana zakat terkumpul, sebaiknya tidak hanya disalurkan dengan bantuan-bantuan yang sifatnya konsumtif, tetapi juga bantuan yang bersifat produktif. Dan bantuan produktif ini persentasenya harus lebih besar dari pada bantuan bersifat konsumtif. Sehingga, warga menjadi mandiri dan tidak bergantung terus kepada bantuan.

Dengan bantuan yang bersifat produktif, diharapkan masyarakat yang awalnya seorang mustahiq, dapat berubah menjadi seorang muzakki. Sehingga, masyarakat mampu membiayai anak-anak mereka hingga perguruan tinggi tanpa berharap bantuan lagi.


PENUTUP

Berzakat tidak hanya dapat membersihkan sebagian harta kita, tetapi juga membantu mengatasi masalah pendidikan yang telah dialami bangsa Indonesia, dan salah satunya adalah masalah putus sekolah. Hanya dengan tingkat pendidikan yang tinggi, kesejahteraan rakyat Indonesia dapat terwujud. Yuk berzakat! Dan menjadi bagian dalam peningkatan pendidikan di Indonesia. 

You Might Also Like

0 comments

Subscribe